Sabtu, 11 Juli 2009

Jangan Pernah Berhenti

By: Jumadi Subur
Saya yakin sebagian besar diantara Anda pernah menonton film Tom and Jerry, benar bukan? Iya, kisah perseteruan kucing dan tikus itu telah lama dipuar di televisi, bahkan vcd-nya tersebar di hampir seluruh toko penjual film di pinggir jalan.

Memang film tersebut tidak terlalu bagus untuk dilihat, apalagi oleh anak-anak. Meskipun kategori film hiburan untuk anak, namun dalam film ini terlalu banyak adegan kekerasan yang disajikan sehingga tidak baik untuk perkembangan mental anak.

Namun bukan itu yang ingin saya bahas disini. Satu hal yang menarik dalam film ini adalah selalu saja ada cara bagi si Tom untuk berusaha mengalahkan si kecil Jerry, dan sebaliknya, selalu ada cara si Jerry dalam memperdaya Tom, si kucing yang selalu jadi pecundang itu. Bahkan seringkali dengan cara-cara di luar yang kita pikirkan. Mereka selalu kreatif dalam mencari cara.

Ya selalu menemukan cara di luar hal yang biasa. Itulah yang ingin saya bahas. Thinking out of the box, begitu orang mengisitilahkan.

Dalam situasi krisis seperti ini, budget yang terbatas, target yang tidak pernah turun, sebagai karyawan kita dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif. Kreatif dalam melaksanakan program kerja dan inovatif dalam mencari cara-cara baru untuk mensiasati situasi kritis seperti ini.

Menurut para ahli, seseorang yang kreatif bukalah selalu menemukan hal baru, namun ia selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, dan biasanya tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang berbeda dari cara-cara yang biasa. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, bermanfaat, meskipun kadang tetapi dapat diimplementasikan.

Pertanyaannya, bagaimana agar kita menjadi orang yang kreatif?

Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:

1. Buka mata, buka telinga

Kemampuan kita untuk selalu terbuka terhadap berbagai hal akan memberikan energi yang luar biasa untuk mampu mencintai segala sesuatu, termasuk mencintai profesi kita.

Dan mencintai itu harus kita lakukan dengan penuh ketulusan. Kalau kita dengan tulus melakukan pekerjaan, maka tidak akan ada beban sedikitpun yang mengganjal terhadap apapun yang ”ingin” kita lakukan.

“I never, ever thought of myself as a businessman. I was interested in creating things I would be proud of ” (Richard Branson)
2. Percaya diri


Kemampuan untuk mengenali apa yang menjadi keistimewaan kita merupakan hal terpenting dalam hidup kita. Karena itu ada istilah “mempercayai kemampuan kreatifitas anda adalah separo dari sukses itu sendiri”

Untuk bisa kreatif, kita harus bisa ber”mimpi” besar untuk menggapai sesuatu. Hidup kita tidak akan bergairah kalau kita tidak memiliki impian dan target. Orang yang percaya diri akan selalu menyusun mimpi dalam dalams ebuah cita-cita hidup.

3. Tanamkan semangat belajar

Look through the eyes of a child. The art of “listening” has been mostly forgotten. God creates human with two ears and only one mouth for a good reason.

Belajar bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan melalui cara apa saja. Anda bisa bertanya pada yang ahli, membaca buku, jalan-jalan, menonton film, mengikuti pelatihan dan kursus, seminar, browsing internet dan banyak lagi.

Dalam kaidah Islam sering mengenal ungkapan-ungkapan seperti: ”belajarlah sampai ke negeri cina”, ”belajar dari sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”.

Itu adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar. Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam kesehariannya.

4. Berhubungan dengan orang-orang kreatif

Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Itu mungkin ungkaan yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya arti seorang teman.

“Sahabat terbaik adalah dia yang mampu mengeluarkan apa yang terbaik dari diri Anda” (Henry Ford)

Apabila Anda selalu bersama orang yang suka menyanyi, lama-kelamaan Anda juga akan senang menyanyi. Jika Anda sering berkumpul dengan para penulis atau sastrawan, paling tidak Anda akan menyukai dunia sastra. Maka jika Anda selalu berhubungan dengan orang-orang kreatif. Anda akan menjadi orang kreatif.

5. Jadilah komunikator yang baik

Saat ini dunia begitu sempit, apa yang terjadi di belahan bumi lain akan bisa kita ketahui sekarang juga dan dimana kita berada. Jadi, untuk menumbuhkan kreatifitas kita harus bisa memanfaatkan sarana komunikasi yang ada.

Di zaman digital seperti ini, berbagai sarana komunikasi dapat Anda manfaatkan untuk membangun relasi dengan orang lain. Blog, friendster, flickr, facebook, website adalah sarana-saran komunikasi yang bisa mendukung Anda mendapatkan wawasan dan teman baru.

6. Ciptakan suasana yang menyenangkan

Bermain mendorong anda dalam suatu pikiran yang berisi banyak elemen
yang anda butuhkan untuk kreatif, misalnya keingintahuan, imajinasi, experimentasi, fantasi, spekulasi, atau apa saja

”Saya tidak pernah memiliki hari kerja dalam hidup saya. Semuanya merupakan kegembiraan” (Thomas A. Edison)

7. Ciptakan lingkungan yang kondusif
Berdasarkan hasil penelitian, untuk menciptakan kreativitas dibutuhkan lingkungan kerja kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti itu sangatlah tidak mudah bagi sebuah organisasi. Mendorong kreativitas dalam dunia kerja menuntut iklim yang permissif terhadap existensi individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.

Salah satu cara terbaik untuk mendorong kreativitas dan inovasi dalam sebuah perusahaan adalah dengan cara mengukur sejauhmana hal tersebut telah dilakukan. Perusahaan dianjurkan untuk memasukkan unsur kreativitas dan inovasi ke dalam proses evaluasi kerja. Sebagai contoh: masukan unsur penilaian tentang berapa banyak ide dari seseorang atau kelompok (teamwork) yang dapat diimplementasikan oleh perusahaan. Jika hal ini terkomunikasi dengan baik maka setiap individu akan berusaha untuk memberikan ide secara konstruktif.

8. Keluar dari rutinitas

Penempatan pegawai dengan konsep the right people with the right job juga merupakan cara yang tepat untuk menstimulasi munculnya kreativitas dan inovasi. Hal ini karena penempatan pegawai pada posisi yang tepat akan mengurangi supervisi sehingga memberikan otonomi bagi individu dalam menyelesaikan masalah-masalah pekerjaannya.

Root-Bernstein, salah seorang penulis buku Sparks of Genius, mengusulkan pentingnya pegawai untuk keluar dari cara kerja yang rutin sehingga dapat melihat masalah pekerjaan dengan cara yang baru. Salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut menurut Bernstein perlu dilakukan brainstorming secara regular. Dengan melakukan brainstorming pegawai diharapkan dapat memberikan ide dan solusi yang baru.
Read More......

Bangkit Di Saat Sulit!!

By: Jumadi subur
Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya.

Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis,

“Ooo… saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol!” Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis.

Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya
pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh.

Ia pulang dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, “Ooo… ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan separuh minyak.” Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia. Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya.

Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang ketiga pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat bahagia.

Ia berkata, “Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak.” Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah, dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada ibunya, “Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu.”

Mitra profesional, kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata
yang terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya dalam bentuk kerja yang realistis.

Kehidupan kita tak akan pernah berjalan semulus yang kita pikirkan. Berbagai macam tantangan, misalnya kehilangan pekerjaan atau orang- orang yang dicintai, disabotase, bangkrut dan lain sebagainya, bisa saja menyeret kita dalam keterpurukan.

Bila kita melihat ke sekeliling, begitu banyak orang-orang yang tenggelam dalam keterpurukan dan terjerat cukup lama dalam kegelapan, misalnya menjadi pecandu narkoba, budak hutang dan kemiskinan, korupsi atau melakukan tindak kejahatan lainnya lalu dipenjarakan, dan bentuk kemalangan lainnya.

Bila kita cukup cerdas dalam menghadapi tantangan kehidupan, bermacam bentuk benturan keras seperti itu seharusnya tidak membuat kita semakin terpuruk. Tantangan kehidupan adalah kesempatan untuk introspeksi diri. Benturan keras dalam kehidupan akan menjadikan kita lebih mulia, jika kita segera sadar atas kekeliruan yang telah dilakukan, kelemahan yang harus

Tantangan kehidupan adalah bagian dari perjalanan hidup supaya kita menjadi lebih cerdas menghadapi tantangan kehidupan. Tokoh-tokoh terkenal dan sukses, misalnya Walt Disney, Soichiro Honda, Thomas Edison, Wright Bros, Fred Smith, Mohamad Ali, Henry Ford, Bill Gates, Steve Jobs, Oprah Winfrey, Christoper Columbus, Anthony Robins, hingga Tukul Arwana, sudah pernah mengalami keras dan sakitnya kehidupan. Tetapi semua pengalaman pahit tersebut justru membimbing mereka ke gerbang kesuksesan.

Kesuksesan mereka bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor pendidikan ataupun modal, apalagi faktor kebetulan. Mereka berhasil lantaran kekuatan dan kecerdasan mereka menghadapi tantangan kehidupan. Menurut Paul G. Stoltz, Phd, dalam bukunya berjudul Adversity Quotient (AQ), ada tiga tipe manusia dalam analogi mendaki gunung:
1. Quitters – orang-orang yang mudah menyerah, sehingga kehidupan mereka semakin terpuruk dalam kemalangan.
2. Campers – orang-orang yang mudah puas dengan apa yang sudah dicapai, sehingga kehidupan mereka biasa-biasa saja.
3. Climbers – orang-orang yang selalu optimis, berpikir positif dan terus bersemangat kerja sampai benar-benar mendapatkan yang mereka inginkan. Contoh dari tipe orang ke tiga adalah orang-orang yang sukses di dunia ini. Selalu memanfaatkan kesempatan untuk maju dan pulih dari keterpurukan adalah ciri khas mereka yang utama. Tak mengherankan jika mereka melalui setiap rintangan dengan tabah, berjuang keras, dan mental yang kuat.

Tantangan kehidupan memang tidak pernah ada habisnya. Tetapi selama kita terus berusaha memperbaiki diri dan strategi ditambah dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, maka kita akan dapat mencapai tujuan tertinggi.

Oleh sebab itu, perbaiki diri terus-menerus, jangan menunggu sampai kemalangan itu benar-benar datang. Mantapkan keyakinan ketika membuat perencanaan dan menetapkan target yang memungkinkan tercapai. Kemudian langsung melakukan langkah-langkah untuk memastikan hasil maksimal, dengan penuh komitmen dan kerja keras, kecintaan dan semangat. Dengan demikian kita akan memiliki kepekaan sekaligus keseimbangan disaat harus menghadapi tantangan kehidupan yang cukup keras.

Mulai detik ini tanyakanlah pada diri sendiri seberapa besar pengaruh positif yang telah Anda dapatkan atas berbagai situasi yang Anda alami? Pastikan tantangan hidup selama ini membawa Anda pada kedewasaan, kebijaksanaan dan kualitas spiritual yang lebih baik. Dengan demikian Anda akan dapat menilai apakah Anda sudah mampu bangkit dan menjadi manusia yang lebih mulia atau belum. [js]
Read More......

Sabtu, 20 Juni 2009

Mau???

Read More......

Kamis, 04 Juni 2009

Lintas bukit Relawan Rumah Zakat indonesia




Oleh : M.Taizir Nasution


Pagi itu di bulan April 09 cuaca batam sangat cerah. kelihatan sekali wajah-wajah cerah sedang menunggu teman yang belum datang.
Batam bisa dikatakan panas. propinsi termuda di Indonesia ini memang propinsi yang paling banyak memiliki pulau-pulau kecil maupun besar. luas daratan propinsi ini 715 Km2, sedangkan luas keseluruhannya 1.570,35 Km2. Batam merupakan salah satu propinsi yang paling pesat pertumbuhannya di Indonesia sehingga gerak pembangunan sangat jelas terlihat disini. kondisi daratan yang berbukit-bukit serta tanah yang kurang subur menjadikan Batam sebagai daerah yang kurang baik untuk lahan pertanian. Laju pembangunan infrastuktur mengharuskan penyediaan lahan yang banyak mengorbankan hutan yang ada dibatam. salah satu hutan yang masih tersisa adalah hutan yang ada dibelakang kawasan Industri Muka kuning. Salah satu kawasan Industri terbesar di Batam.
Rumah Zakat Indonesia bekerjasama dengan Batam Adventure Club kali ini mengadakan acara lintas alam bagi relawannya. Tujuan dari acara ini untuk lebih meggalang kekompakan serta melatih fisik juga mental para relawan organisasi zakat ini. lokasi yang dipilih adalah hutan dibelakang Kawasan Industri Batamindo. sedangkan rute yang ditempuh dari Simpang Dam sampai Dormitori Blok R. perjalanan kali ini melibatkan lebih kurang 20 relawan serta 3 orang Panitia. Masjid Nurul islam yang terletak di dalam Kawasan industri ini adalah lokasi peserta berkumpul serta start awal perjalanan. Team BAC yang turun pada kesempatan kali ini ada 3 orang dan dipimpin oleh direktur BAC sendiri, Bapak Bowo Susanto. sebelum acara pemberangkatan Pak Bowo memberikan arahan singkat mengenai persiapan serta teknis perjalanan kepada peserta.
Tepat pukul 8.00 pagi rombongan sudah mulai bergerak diiringi do'a dan Takbir yang membahana peserta keliatan bersemangat sekali mengikuti acara ini. barisan peserta mulai berjalan melintasi jalanan kawasan ini. beberapa pengendara yang melintas memperhatikan dengan wajah ingin tahu, ada yang tersenyum ada juga yang kelihatan bengong. Mungkin mereka bertanya-tanya rombongan apakah ini?.
rombongan terus berjalan melintasi simpang dam dan masuk ke kawasan tower telekomunikasi yang berada diatas bukit, rute yang ditempuh langsung menanjak. masuk kekawasan hutan tidak membuat rutenya menjadi mudah, jalan yang menanjak masih terus dilalui rombongan ini, sampai seratus meter masuk kedalam kawasan hutan barulah jalanan sedikit landai. keringat mulai bercucuran serta muka para peserta mulai memerah, perbekalan air mulai diminum dan peserta mulai meminta untuk beristirahat. Didalam hutan peserta harus awas mengamati tanda untuk mengetahui rute yang akan dilalui. tanda-tanda tersebut dibuat oleh team Batam adventure yang diletakkan dipohon-pohon. setelah lima menit istrirahat perjalanan dilanjutkan kembali, rute yang ditempuh kali ini berupa badan bukit sehingga menguras energi yang lebih karena kondisi medan yang bertekstur miring. sampai ditengah perjalanan kita menemui sungai yang airnya hampir mengering. Para peserta mengisi botol-botol minuman mereka yang persediaannya mulai habis. terasa segar sekali air sungai. memang alam menyediakan apa yang kita butuhkan asalkan kita menjaga kelestariannya.
Kondisi fisik peserta kelihatan sudah semakin menurun, terlihat ketika banyaknya peserta yang mengajukan istirahat. hal seperti ini sebisa mungkin kita hindari, semakin banyak istirahat semakin lelah serta cepatnya turun stamina, karena akan mengganggu ritme tubuh kita. ketika tubuh kita sudah terbiasa dengan beban mendaki dan menurun tiba-tiba kita istirahat kondisi ini menyebabkan otot-otot kembali keposisi semula dibutuhkan lagi waktu untuk beradaptasi kekondisi beban tadi. sebaiknya waktu istirahat diatur jarak serta waktunya.
Dengan menyanyikan yel-yel semangat peserta mulai bangkit kembali. Udara semakin panas ketika mendekati pukul dua belas siang, namun karena pepohonan semakin rapat udara panas tersebut sedikit berkurang. mendekati garis akhir rute yang kita tempuh semakin menurun dan dari kejauhan terdengar suara aliran air, peserta mempercepat langkahnya dan benar saja kita menemukan sungai kembali. Sungai ini agak besar dari sungai yang kita jumpai pertama tadi dan airnya jernih sekali. para peserta langsung membuka sepatu dan masuk kedalam sungai. terlihat kegembiraan diwajah mereka, ada yang mencuci muka ada juga yang sekedar duduk-duduk dibebatuan dan membiarkan kaki mereka teremdam. Sebagian lagi mengisi botol-botol air mereka.
Sekitar lima belas menit kemudian peserta mulai bergerak kembali, dan kali ini rute sudah memasuki perumahan penduduk yang ada di belakang kawasan. bukan perumahan pada umumnya, perumahan ini merupakan kawasan hutan yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk membangun rumah. Umumnya di Batam disebut "Ruli" atau rumah liar. Tepat ketika Azan waktu sholat Zhuhur tiba kita sampai di akhir garis finish dengan selamat. Setelah kata-kata penutup dari koordinator Rumah zakat yang diwakili oleh pak Edy dan dengan do'a penutup kita dan seluruh peserta bubar.
Demikian kisah singkat perjalanan lintas alam Batam adventure club dengan Rumah zakat. Untuk kisah-kisah perjalanan selanjutnya dimasa yang akan datang akan kita share ke teman-teman pengunjung blog ini.
Read More......

Kamis, 07 Mei 2009

New Program







Type rest of the post here
Read More......

Kamis, 12 Maret 2009

Kepemimpinan Dalam Islam

Kepemimpinan adalah satu hal yang mutlak dalam kehidupan. Di dalam kehidupan rumah tangga perlu kepala, sholat berjamaah perlu imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim perlu pemimpin perjalanan. Inilah pentingnya kepemimpiann. Untuk tujuan memperbaiki kehidupan yang lebih baik, seorang muslim tidak boleh mengelak dari tugas kepemimpinan, Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang-orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat (HR. Ahmad).

Di dalam Islam, pemimpin kadangkala disebut imam tapi juga khalifah. Artinya ia menjadi orang terdepan dalam memberi contoh sekaligus juga pemberi motivasi dan pendorong dari belakang barisan. Hakikat kepemimpinan dalam Islam meliputi:
(1) Tanggung Jawab, Bukan Keistimewaan. Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia harus mampu mempertanggungjawabkannya kepada manusia dan Allah Swt. Oleh karena itu, jabatan dalam semua level atau tingkatan bukanlah suatu keistimewaan sehingga seorang pemimpin atau pejabat tidak boleh merasa menjadi manusia yang istimewa sehingga ia merasa harus diistimewakan dan ia sangat marah bila orang lain tidak mengistimewakan dirinya.
Umar bin Abdul Aziz kerap menyamar menjadi rakyat biasa untuk menyelami kehidupan rakyatnya. Pernah menjadi kuli panggul dan tukang angkut barang di pasar sebagai wujud tanggungjawabnya untuk peduli dengan rakyat.
Karena kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah yang tidak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu kepastian, Rasulullah Saw bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu (HR. Bukhari dan Muslim)
(2) Pengorbanan, Bukan Fasilitas. Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit.
Karenanya dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz sebelum menjadi khalifah menghabiskan dana untuk membeli pakaian yang harganya 400 dirham, tapi ketika ia menjadi khalifah ia hanya membeli pakaian yang harganya 10 dirham, hal ini ia lakukan karena kehidupan yang sederhana tidak hanya harus dihimbau, tapi harus dicontohkan langsung kepada masyarakatnya.
3. Kerja Keras, Bukan Santai. Para pemimpin mendapat tanggung jawab yang besar untuk menghadapi dan mengatasi berbagai persoalan yang menghantui masyarakat yang dipimpinnya untuk selanjutnya mengarahkan kehidupan masyarakat untuk bisa menjalani kehidupan yang baik dan benar serta mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Untuk itu, para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme.
(4). Kewenangan Melayani, Bukan Sewenang-Wenang. Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda: Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR. Abu Na’im).
Oleh karena itu, setiap pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan terhadap orang-orang yang dipimpinnya guna meningkatkan kesejahteraan hidup, ini berarti tidak ada keinginan sedikitpun untuk menzalimi rakyatnya apalagi menjual rakyat, berbicara atas nama rakyat atau kepentingan rakyat padahal sebenarnya untuk kepentingan diri, keluarga atau golongannya. Bila pemimpin seperti ini terdapat dalam kehidupan kita, maka ini adalah pengkhianat yang paling besar, Rasulullah Saw bersabda: Khianat yang paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya (HR. Thabrani).
(5). Keteladanan dan Kepeloporan, Bukan Pengekor. Dalam segala bentuk kebaikan, seorang pemimpin seharusnya menjadi teladan dan pelopor, bukan malah menjadi pengekor yang tidak memiliki sikap terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ketika seorang pemimpin menyerukan kejujuran kepada rakyat yang dipimpinnya, maka ia telah menunjukkan kejujuran itu. Ketika ia menyerukan hidup sederhana dalam soal materi, maka ia tunjukkan kesederhanaan bukan malah kemewahan. Masyarakat sangat menuntut adanya pemimpin yang bisa menjadi pelopor dan teladan dalam kebaikan dan kebenaran.
Dari penjelasan di atas, kita bisa menyadari betapa penting kedudukan pemimpin bagi suatu masyarakat, karenanya jangan sampai kita salah memilih pemimpin, baik dalam tingkatan yang paling rendah seperti kepala rumah tanggai, ketua RT, pengurus masjid, lurah dan camat apalagi sampai tingkat tinggi seperti anggota parlemen, bupati atau walikota, gubernur, menteri dan presiden. Karena itu, orang-orang yang sudah terbukti tidak mampu memimpin, menyalahgunakan kepemimpinan untuk misi yang tidak benar dan orang-orang yang kita ragukan untuk bisa memimpin dengan baik dan kearah kebaikan, tidak layak untuk kita percayakan menjadi pemimpin.
(karimun/jm)

Read More......

Kamis, 26 Februari 2009

Ketika Pemimpin (Lupa) Turun ke Bawah


Oleh : Efriyandi Junmaisal, ST


Tulisan ini didedikasikan kepada korban longsor Banjarnegara, Jember, dan korban banjir di Batam serta korban alam lainnya yang mengawali tahun 2006 lalu serta masukan bagi Wali kota Batam yang baru dilantik agar menjalankan roda pemerintahan dengan baik dan tidak jatuh ke lubang yang sama.


Kita kilas balik terlebih dahulu beberapa kejadian yang terjadi mengawali tahun 2006 lalu, kejadian-kejadian tersebut sudah menelan ratusan jiwa, baik itu nasional maupun lokal Batam sendiri. Dimulai dari banjir bandang di Banjarnegara yang sampai saat ini menelan korban ratusan meninggal dan ribuan yang menderita luka-luka, lalu banjir longsor di Jember yang menelan korban sama banyaknya, sedangkan bencana alam yang terjadi di Batam baru-baru ini yaitu banjir yang melanda dibeberapa daerah sehingga menghambat warga yang beraktivitas pun ada korban bahkan kerugian materiil juga dialami warga.

Walau dikatakan semua kejadian diatas adalah kejadian alam, namun semua murni disebabkan oleh ulah manusia, karena alam yang diciptakan sebelumnya tidak membuat ulah, bahkan memberikan nilai manfaat bagi warga yang tinggal disekitarnya. Salah satu hasil investigasi sebuah stasiun televisi dalam suatu tayangannya terlihat hutan banyak ditebang tanpa ada upaya reboisasi.

Namun walau disebabkan oleh ulah manusia, faktor utama penyebab dari semua kejadian tersebut adalah ketika para pemimpin lupa turun ke bawah, yang cukup menunggu laporan dari bawahannya. Memang ada yang langsung turun, namun intensitasnya bisa dikatakan kurang, bahkan diadakan sekali dalam jangka waktu tertentu.

Saat ini sistem kepemimpinan kurang optimal berjalan, apakah ilmu kepemimpinan belum didapat atau karena dimanja oleh fasilitas yang dimiliki. Ada asisten, ajudan, ada staf ahli, dan lain sebagainya. Walau pemimpin tersebut dibantu dengan asisten-asisten yang kompeten, namun bukanlah menjadi penghalang bila sang pemimpin mau bekerja ke bawah, melihat fakta langsung ke bawah adalah suatu langkah yang tidak salah. Langkah ini juga sangat efektif membuat para asisten tersebut tidak akan main-main lagi dalam membuat laporan, apalagi kalau laporannya tidak benar maka sang asisten bisa dipecat dari jabatannya.

Sekarang menjadi pertanyaan, kenapa banyak asisten atau lainnya bisa membuat laporan fiktif, ada beberapa faktor yang memicu hal tersebut diantaranya :

Masa-masa Koalisi
Saat ini tampuk kepemimpinan memang dipimpin oleh satu orang, namun berhasilnya dia menjadi orang nomor satu tiada lain karena faktor dukungan beberapa partai. Saat ini baik ditingkat nasional, propinsi sampai daerah tidak ada calon yang memimpin hanya diusung satu partai tapi lebih dari satu, yang inilah dinamakan koalisi. Kejadian-kejadian yang terjadi ini bisa dimungkinkan karena koalisi-koalisi partai tadi, sehingga ada celah untuk saling menjatuhkan dan membuat hasil laporan sekadar ABS (asal bos senang). Adanya praktek koalisi berarti adanya pembagian jatah jabatan, nah pembagian jatah jabatan ini dimungkinkan adanya suatu konspirasi terselubung, apalagi kalau konspirasi tersebut mengkambinghitamkan pemimpin. Kalau partai koalisi tidak senang, bisa jadi ditahun yang berjalan mereka akan menarik dukungan. Kalaulah partai pendukung kemudian menarik dukungan alih-alih kabinet di reshuffle, sedemikian parahnya maka keefektifan roda pemerintahan lambat laun akan hilang. Ditahapan ini kerap akan terjadi saling tidak percaya pasca adanya reshuffle tadi.

Masa Budaya Korupsi
Hal hal lain yang memungkinkan terjadi ketimpangan pola kepemimpinan adalah karena masih adanya budaya korupsi yang mengakar, sehingga banyak laporan-laporan yang dibuat hanya/bila ada uang “makan”, kalau tak ada tugas tetap jalan tapi laporan dibuat fiktif. Kalau ada tugas pun, bahkan ditambah dengan uang jalan masih banyak juga laporan dibuat fiktif. Memang ada gerakan pemberantasan korupsi, namun sang pemain pun sudah lihai untuk memainkan perannya agar tidak tercium oleh KPK atau kepolisian. Nantinya ditahapan ini akan banyak agenda-agenda yang memboroskan uang tanpa ada kesesuaian dengan jadual yang dibuat, sehingga anggaran yang sudah dibuat pun masih bisa diperbaiki agar agenda “siluman” bisa diterbitkan.

Faktor-faktor tersebut hendaknya nanti harus diwaspadai oleh Walikota Batam ke depannya, karena bila tidak diwaspadai sangat mungkin akan terjadi ketimpangan-ketimpangan yang akan membuat runtuh roda pemerintahan, dan bila ini terjadi akan membuat massa diluar pendukung akan memanfaatkan untuk menjatuhkan sang Walikota.

Ada beberapa solusi dalam kesempatan ini penulis tawarkan kepada Walikota Batam yang insyaAllah bisa dijadikan langkah-langkah penanggulangan dan yang paling penting agar menyentuh kembali hati para pemimpin agar tidak lupa turun ke bawah, diantaranya :
1. Seorang pemimpin harus tahu apa yang dipimpinnya, siapa bawahannya, apa yang menjadi komitmen dan tugasnya.
2. Tidak ada salahnya jika seorang pemimpin mau “hitam berjelaga” hanya karena sayang kepada warganya, menerapkan sistem reserse kepolisian dalam sidaknya, artinya pemimpin tersebut kalau sedang sidak tak perlu memakai baju dinas dengan ada tanda walikota didadanya, tapi bisa saja berpakaian lain yang tidak membuat warga tahu yang dihadapinya adalah pemimpin daerah.
3. Tidak terlena akan fasilitas yang disandang, karena fasilitas yang ada tidak harus mematikan jiwa keidealisan, mungkin dahulu sebelum jadi walikota dia menjadi aktivis, sering berbaur dengan masyarakat, ikut demo, orasi, dsb. Nah, jiwa ini jangan hilang saat sudah duduk dikursi empuk.
4. Mau berkorban apa saja untuk menegakkan kebenaran, bahkan jabatan & jiwa pun menjadi taruhannya, bahkan tidak harus menunggu bawahannya yang dulu menjadi korban. Memang jarang ditemui saat ini seorang pemimpin mau meninggalkan jabatannya kalau dia gagal, apalagi mengorbani jiwanya yang kalau dia pahami betul bahwa langkah tersebut merupakan langkah syahid dijalan Allah SWT, seperti cerita-cerita yang sering tampil ditelevisi, seorang komandan perang maju kehadapan bersama anak buahnya untuk bertempur
5. Positive thinking boleh diterapkan. Namun, silahkan saja pemimpin mengecek kebenaran laporan tersebut, apakah sudah tepat, cara ini jangan ketahuan oleh sang pembuat laporan, hal ini manfaatnya agar orang-orang yang ada disekeliling kita untuk membuat laporan lebih real lagi.
6. Setelah itu semua dilakukan, buatlah gebrakan-gebrakan yang akan membuat roda pemerintahan stabil, keseimbangan keuangan dengan daya dobrak juga harus diperhitungkan, buatlah kerja dengan skala prioritas, tidak melewati batas kemampuan, menempatkan segala pola kerja pada tempatnya, tidak hanya harus seimbang perhatiannya, karena walau perhatiannya seimbang tapi tidak melihat skala prioritas belum tentu pemerintahan bisa dikatakan berhasil dimata rakyat.

Yang paling penting solusi dari semua masalah itu adalah factor atau kunci utamanya yaitu agar para pemimpin jangan malu-malu untuk turun ke bawah, melihat rakyatnya langsung tanpa harus terus mengandalkan laporan dari bawahannya. Kesadaran yang timbul dari lubuk hati bahwa dirinya dipilih oleh rakyat semoga bisa mengalahkan kemalasan duduk dikursi empuk, tidak menunggu rakyat ditimpa kesusahan terlebih dahulu, tapi mencari solusi sebelum ada insiden yang menelan korban dan kerugian material. Perilaku ini sebenarnya sudah dilakukan zaman Rasulullah SAW dan sahabatnya, dimana pernah sahabat Umar Ra, yang saat itu menjabat sebagai Aamirul Mukminin keliling melihat kondisi rakyatnya, sehingga dikisah itu dia melihat ada rakyatnya menderita kelaparan, lalu diberikannya apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya yang susah tersebut.

Semoga kualitas kepemimpinan walikota kita sekarang lebih baik seperti apa yang diharapkan dari tulisan diatas. Semoga !!!




Efriyandi Junmaisal, ST
Trainer BAC Learning Centre

Read More......